Saturday, May 20, 2017

Jangan Percaya Adegan Seks dalam Film Apapun Sebelum Tahu 9 Kebohongannya Ini!


Menurut studi audiens yang dilakoni oleh Elihu Katz dan Tamar Liebes, kecenderungan orang Indonesia dalam menonton film adalah menjadikannya referensi langsung dalam kehidupan nyata. Apapun yang ada dalam film berarti harus sama dengan kehidupan nyata, perihal perjuangan hidup, hubungan romantika, hingga seks. Yang disebut terakhir ini agak krusial. Pasalnya, di negara yang masih menabukan perbincangan soal seks di usia dini, satu-satunya gambaran imajinasi kita tentang hubungan seksual ya hanya dari film (kecuali Kamu suka mengintip proses ‘ibadah’ orangtuamu).
Makanya, jika Kamu merasa ada yang berbeda antara kehidupan seksmu dengan yang Kamu saksikan di layar lebar, jangan panik. Kesalahan ada di filmnya. Apalagi kalau yang kamu tonton adalah film Hollywood, termasuk American Pie, Fifty Shades of Grey hingga Twilight.
Ingat, bahwa salah satu fungsi utama film adalah menghibur. Ada unsur dramatisasi yang kadang membuatnya menyimpang dari realitas. Tidak bisa dituduhkan sepenuhnya sih jika tujuan para filmmaker tersebut adalah manipulatif, karena kadang bisa saja itu didasari keterbatasan durasi atau sebagainya. Yang penting kita sudah punya bekal untuk bisa mencerna realitas-realitas film itu dengan bijak. Berikut adalah dusta-dusta sinema dalam membangun adegan-adegan seks dalam layar kaca:

1. Pengalaman perdana selalu berkesan. Pilihannya cuma dua: sukses besar atau gagal total

Yang pertama mungkin memang selalu berkesan dan terkenang. Entah pertama kali berhubungan seksual, pertama kali berhubungan seks dengan orang tertentu, atau pertama kehilangan keperawanan. Akan tetapi, kesan pengalaman itu bisa jadi hanya karena melibatkan hubungan emosional yang kuat. Untuk praktik seksnya sendiri kebanyakan hanya akan berjalan awkward,kikuk, canggung, atau biasa-biasa saja. Ya namanya juga masih malu-malu. Sementara dalam film, unsur dramatisasi selalu menyulap tiap kisah pengalaman pertama menjadi ekstrem: “malam terindah” atau “malam terburuk”.

2. Kondom tidak wajib hukumnya

Ini salah satu kebohongan yang berbahaya. Jika apa yang disajikan di film selalu benar, entah sudah seperti apa ledakan jumlah populasi kita. Cermati deh, adegan seks di film alurnya terlalu praktis: bertemu, bertatapan, berciuman, lepas baju, hantam, lalu tiba-tiba selesai begitu saja. Hampir tidak ada adegan berhenti sejenak, berbasa-basi kaku sembari mengenakan kondom.

3. Kalau kondom aja terlupakan, apalagi pelumas


elain kondom, piranti seks yang sebenarnya umum dipakai namun jarang ditampilkan di film adalah pelumas atau pelicin. Termasuk juga dalam praktik seksual gay (pria dan pria) atau (maaf) anal seks yang faktanya membutuhkan pelumas. Kalaupun eksis di film, fungsinya lebih untuk menunjukan bahwa subjek tokoh adalah seorang maniak seks yang punya fantasi berlebih. Seakan-akan pelumas adalah barang mesum. Padahal Kamu bisa menemukan pelumas banyak dijual di tempat-tempat umum seperti minimarket dan apotik. Kalau nggak canggung sih, coba tanya saja orangtua kita, mereka mungkin juga pernah memakainya… dan biasa saja.

4. Wanita mengalami orgasme secara singkat dan instan


Menurut sejumlah survei, hanya sebagian persen dari wanita di dunia yang beruntung pernah mengalami klimaks orgasme dalam aktivitas seksualnya. Itu pun perlu melewati stimulan atau metode perangsang lain dalam waktu yang tidak sebentar. Sementara itu, di industri film, sangat lazim adanya adegan penetrasi seks yang hanya dalam beberapa detik langsung menghasilkan orgasme disertai respons raut wajah sang wanita yang ekspresif. Penting untuk diketahui bahwasanya tidak ada yang salah jikalau faktanya lain di kehidupan seksualmu.

5. Laki-laki lebih berhasrat dan mudah terbuai nafsu


Sebenarnya, film-film masa kini mulai lebih terbuka dengan asumsi kolot ini. Di sinema Hollywood, mulai banyak karakter wanita yang digambarkan menjual sensualitas lebih aktif dibanding pasangannya. Misalkan sosok istri yang lebih genit dan nakal dibanding suaminya. Namun, nggak sedikit juga yang masih menegaskan citra laki-laki sebagai pihak aktif atau “pelaku” dalam tiap hubungan seksual, entah itu pra-nikah atau pasca nikah. Terutama untuk film-film yang sengaja hendak menawarkan unsur komedi atau sisi parodi laki-laki yang berandal dan mesum.

6. Kehidupan seks pasangan yang belum menikah lebih liar daripada pasangan menikah

Terkadang, demi menunjukan kegilaan atau serunya pacaran liberal, dipertontonkan frekuensi dan aktivitas seks yang menggebu-gebu nan liar dari pasangan yang belum menikah. Sementara pasutri (pasangan suami istri) agak digambarkan teredam nalurinya seolah tak lagi terlalu antusias satu sama lain. Padahal, logikanya berkata lain. Tatkala sudah tak ada halangan secara norma dan agama, kebebasan penuh di tangan, kenapa harus ragu lagi?

7. Berhubungan seks di tempat umum itu serunya selangit

Ada banyak orang yang merasa lebih puas bisa sembunyi-sembunyi melakukan hubungan seks di tempat umum seperti kelas, kamar mandi, perpustakaan, rumah sakit dan lain-lain. Mereka berujar bahwa ada adrenalin yang turut bermain. Bisa jadi benar, tapi bayangkan kondisi sebenarnya. Tidak bisa lari dari perasaan deg-degan, sebentar-sebentar mesti celingak celinguk melihat sekitar kayak maling, dan berhenti ketika ada suara kemresek atau sebagainya. Apakah ketidaknyamanan itu ada di film? Tidak.

8. Kelar ‘bertempur’, paras masih cantik jelita

Sukar untuk dimaklumi jika riasan masih terpasang rapi, rambut tergerai indah, dan air muka tetap berseri di adegan-adegan pasca seks dalam sinema. Faktanya, ending yang riil seharusnya adalah rambut mawut nggak karuan, make up coreng moreng, dan raut muka letih nan kucel. Jangan lupa ada bau mulut di pagi hari. Belum lagi pasangan yang bersenggama pasca mabuk-mabukan, jangankan tersenyum manis, adanya ya muntah-muntah.

9. Terakhir, cowok seakan punya radar….. yang kecanggihannya tak bisa kita pahami
Ini sederhana, tapi anehnya bukan main. Dalam adegan ranjang di film, selalu seakan alat kelamin laki-laki punya radar bawaan untuk bisa melakukan penetrasi di posisi yang jitu, bahkan tanpa perlu lirikan mata atau bantuan tangan. Magis.
Adegan seks selalu punya nilai keberadaan yang kuat bagi tiap film. Baik demi menunjang estetika, maupun bagian fundamental dari keberlanjutan plot cerita. Kita juga kadang-kadang menyimaknya dengan cara berbeda dari adegan lainnya. Pesan kita cuma satu, jangan percaya mentah-mentah.
Artikel lain silahkan klik https://goo.gl/5v7AZ9

Tags:

0 Responses to “Jangan Percaya Adegan Seks dalam Film Apapun Sebelum Tahu 9 Kebohongannya Ini!”

Post a Comment

Subscribe

Donec sed odio dui. Duis mollis, est non commodo luctus, nisi erat porttitor ligula, eget lacinia odio. Duis mollis

© 2013 ARTIKEL DEWASA 18+. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks